Kampanye Stop PETI Polsek Sungai Manau: Lelucon Terlucu Abad Ini?
PORTALKITA,NET- Merangin Berita tentang kampanye pemberantasan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) oleh Polsek Sungai Manau yang menggandeng masyarakat sekilas terdengar baik. Dalam foto yang beredar di salah satu media online, sejumlah personel polisi tampak memegang spanduk bertuliskan tegas: “Stop Pertambangan Emas Tanpa Izin Sekarang Juga.” Spanduk itu bahkan memuat kutipan pasal dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Minerba dengan ancaman pidana 10 tahun penjara dan denda Rp1 miliar.
Pesannya keras. Ancaman hukumnya juga tidak main-main. Namun bagi masyarakat yang setiap hari melihat kondisi di lapangan, pemandangan itu justru terasa seperti ironi.
Aktivitas PETI di Sungai Manau bukan rahasia. Puluhan ekskavator disebut hampir setiap hari melintas menuju lokasi tambang. Aktivitas itu berlangsung terbuka dan mudah disaksikan masyarakat.
Bahkan di sepanjang jalan dari Sungai Manau menuju Perentak, alat berat terlihat berjejer di tepi sungai, sebagian lainnya berada di pinggir jalan besar, seolah menjadi pemandangan biasa. Sulit menyebut aktivitas sebesar itu berlangsung diam-diam.
Situasi serupa juga pernah terlihat saat kegiatan Bantai Adat yang dihadiri Bupati Merangin bersama sejumlah kepala OPD. Tidak jauh dari lokasi acara, puluhan kendaraan yang telah dimodifikasi untuk mengangkut jerigen minyak—yang diduga menjadi pasokan aktivitas PETI—terlihat terparkir. Namun tak terdengar komentar ataupun sikap tegas dari pemerintah daerah.
Di sinilah ironi itu terlihat jelas. Di satu sisi, spanduk besar mengancam pelaku PETI dengan hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp1 miliar. Di sisi lain, ekskavator dan logistik tambang ilegal masih tampak bergerak di ruang terbuka.
Persoalan PETI di Merangin bukan lagi soal kurangnya kampanye. Semua orang tahu aktivitas itu ilegal dan merusak lingkungan. Sungai rusak, lahan berubah, dan risiko bencana semakin nyata. Yang dibutuhkan bukan slogan, melainkan tindakan.
Jika kampanye terus digelar sementara ekskavator tetap berjejer di tepian sungai, maka spanduk bertuliskan “Stop PETI Sekarang Juga” berisiko hanya menjadi simbol. Dan simbol tanpa tindakan, bagi publik, sering kali berubah menjadi ironi bahkan lelucon.
Penulis: OLENG
Editor: Pristianita
